Siang-siang panas begini, kayaknya enak juga kali ya ngebahas yang agak-agak panas juga. Dan sepertinya tema tentang cinta, cukup bikin gerah ya. Hahaha.
Setiap orang punya pendapat masing-masing soal cinta. Ada yang meyakini bahwa cinta harus diekspresikan dengan kata-kata. Ada yang merasa harus dibuktikan. Ada yang merasa harus memproklamirkan hubungan biar semua orang tahu status hubungan. Tapi ada juga yang sebaliknya.
Gak ada yang salah sebenarnya. Karena itu kan hak kita masing-masing. Tetapi, mencermati yang belakangan ini sering kita lihat, saya suka gak habis pikir. Terlalu banyak cinta yang kebablasan menurut saya.
Bohong saja bila ada yang mengaku cinta tapi gak ada buktinya. Begitu kan? Minimal ya diungkapkan lah.. Dikasih tau sama yang bersangkutan. Atau dengan perbuatan, kasih liat ke dia kalau kita peduli, perhatian, dan lain-lain yang intinya kita sayang padanya.
Tetapi seringnya, ketika cinta menuntut pembuktian, kenapa harus selalu fisik yang jadi pilihan? Begitu banyaknya kita melihat laki-laki dan perempuan bukan muhrim saling melingkarkan lengan ke tubuh pasangan masing-masing.
Pegangan tangan itu cuma sebagian kecil lho. Qlo diibaratkan dengan jenjang pendidikan, itu baru setingkat SD. Masih kecil. Selanjutnya apa? Qlo sekolah, gak mungkin gak naek kelas kan, yaa...
Semuanya selalu berawal dari hal-hal kecil yang dibiasakan. Termasuk juga soal pembuktian 'cinta' ini. Nantinya, gak perlu kagetlah kita qlo tiba-tiba ada anak yang gak ketauan siapa bapaknya.
Saya bilang ini 'cinta' pake tanda kutip, karena sudah jelas ini bukanlah cinta. Gampang saja membedakannya sebetulnya. 'Cinta', hanyalah emosi sesaat yang sarat nafsu. Cinta, justru lebih dalam dari itu. Lebih bermakna. Lebih menjaga. Memang, di mana-mana, yang namanya cinta tidak mungkin tidak diikuti oleh nafsu. Tapi dia bisa mengendalikannya.
Mengenai ini, saya pernah diketawain seseorang. Zaman sekarang, gak ada yang namanya pacaran itu gak pake pegangan tangan. Qlo mau cari orang yang begitu, sama anak SMP aja gih. Begitu katanya. Duh, saya cuma bisa senyum. Emangnya apa yang salah dengan berusaha tetap menjaga diri, walau cuma sebatas pegangan tangan sekalipun? Rasanya miris, jika cinta harus dinilai sedangkal itu.
Nah, trus, gimana qlo ternyata di kemudian hari terbukti bahwa pacar itu bukanlah jodoh kita yang akan mempersunting kita? Apa kita akan nyaman mengulang aktivitas yang sama dengan pacar yang baru lagi? Ini terutama buat perempuan, kaum saya, yang hanya punya satu mahkota. Jika laki-laki itu mencintai kita, maka dia pun akan ikut menjaga mahkota itu. Walaupun belum tentu nanti kita akan jadi istrinya atau tidak.
Bukan hanya masalah kontak fisik. Begitu pun dengan kata-kata mesra dan yang katanya romantis. Ayah saya bahkan memperingatkan, banyak bicara itu banyak bohongnya. Nah lho.. Ayah saya laki-laki juga kan? Saya setuju dengan kata-kata ayah. Janji-janji manis dan rayuan, bukanlah bukti bahwa seseorang mencintai kita. Itu malah hanya akan mengurangi nilai dari cinta itu sendiri.
Saya lebih setuju jika cinta membuat kita bersemangat meraih impian-impian kita, bukannya menghabiskan hari dengan menghayal dan membayangkan wajah orang terkasih itu. Cinta itu perasaan yang nyata, dan mestinya tidak membuat kita hidup di alam mimpi dan angan-angan, dengan begitu banyak pengandaian.
Terkadang rasanya saya agak ekstrim juga ya. Memang saya tidak memilih pacaran. Tetapi menurut saya, tidak ada yang salah dengan cinta yang tumbuh sebelum menikah. Hanya saja saya lebih setuju jika perasaan itu membawa kedua insan tersebut untuk berjuang demi cinta yang halal. Itu saja. Karena menurut saya, begitulah seharusnya pembuktian cinta itu.
*Rabbi, untuk mereka yang tengah meniti jalan menuju cinta yang Engkau ridhoi, mudahkanlah ya Allah..
Sabtu, 19 Maret 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar