Selasa, 18 November 2008

What Is The Love..?
















Suatu hari seorang teman bertanya pada saya. “Na, loe tau gak apa itu cinta?”
Saya terdiam sebelum akhirnya menggeleng dan menjawab, “gak, gue gak tau.”
Lalu dia bertanya lagi. “Loe pernah gak, bilang cinta sama cowok?”
Tanpa mikir, saya langsung menggeleng. “Gak. Tapi kalau bilang suka, pernah.”
Hmmm… Cinta. Pertanyaan yang bikin saya mikir.
Bukan berarti selama ini saya nggak pernah mikir sich… Tapi kali ini otak saya benar-benar seperti dicongkel. Ingatan yang udah hampir terkubur kelindes waktu akhirnya saya buka lagi.
What is the love?
Selama ini saya mati-matian berusaha memahami cinta, cinta yang sebenar-benarnya. Cinta yang bukan diartikan sempit sebagai perasaan dua anak manusia yang saling suka. Bukan sekedar emosi sesaat yang disalahkaprahkan dengan cinta.
Mengapa? Karena saya yakin bahwa itu bukan cinta, tetapi ‘cinta’. Disebut cinta, kalau pearasaan itu tidak membuat saya keluar dari batasan-batasan agama. Kalau perasaan itu mambuat saya lebih berhati-hati manjaga diri saya dan orang yang saya cintai dari perbuatan dosa. Seperti seekor induk kuda yang mengangkat kakinya agar anaknya tidak terinjak. Seperti orang tua yang rela melakukan apa saja, bahkan dirinya sendiri agar anaknya sukses dan bahagia. Cinta itu pula yang membuat Allah mengingatkan manusia untuk menjaga diri dari api neraka.
Cinta memang sedalam dan sebermakna itu.
Bagaimana dengan ”cinta”? Perasaan yang membuat kita ingin lebih dekat secara fisik dengannya, ingin berlama-lama menatapnya atau berdua-duaan dengannnya sementara belum ada ikatan yang halal atasnya. Itu bukan cinta, hanya sesuatu yang sarat nafsu dan tipu daya. Dan cinta, selamanya tidak akan pernah sama dengan “cinta”.
Cinta itu bukan sekedar mengenal dan menyukai sesuatu atau seseorang. Perasaan cinta itu lebih dalam pengaruhnya dari itu. Ia lebih mengharu biru dan merampas hati. Bahkan cinta sejati adalah cinta yang tidak memberi ruang kosong dalam hati, tidak memberi jalan sedikit pun dalam jiwa bagi yang lain selain kekasih.
Kesabaran adalah kunci jawaban yang paling tepat. Rasa itu bukan dilarang namun dikendalikan. Rasa itu diperbolehkan tumbuh subur bila sudah tiba pada saatnya. Karena mencintai dan dicintai memang fitrah manusia. Semua sudah diatur menurut porsinya agar manusia bahagia hidup di dunia dan akhirat. Dia, Sang Maha Pengasih, Sang Maha Sempurna, tidak mungkin keliru dengan perhitungan Nya.
Bukankah tidak bisa disebut kejahatan bila seorang dokter memutuskan amputasi kepada organ pasien yang dianggap membahayakan organ lainnya. Bukankah tidak dianggap kesalahan manakala seorang hakim memutuskan hukuman mati kepada seorang pembunuh berencana. Dan bukankah orangtua yang selalu menuruti segala macam kemauan anaknya tanpa seleksi justru tidak bisa dibenarkan.
Begitulah kita seharusnya memaknai keseluruhan kasih sayang Allah yang terkandung dalam tiap aturan Nya. Yang kelihatan indah dan manis belum tentu benar. Dan sebaliknya, yang nampak buruk dan pahit belum tentu salah. Ada banyak rahasia agung Nya di balik kekerdilan rasionalitas dan perasaan manusia.
Cinta, bila disikapi dengan benar, akan melatih jiwa menjadi lebih dewasa.
Jika kita mincintai seseorang karena pemberian dan kebaikannya, karena akhlak dan sifat-sifat terpujinya, maka sungguh kita lebih patut mencintai sumber nikmat dan kemurahan itu.
Allah SWT.
That is the love, the true love. Cinta pada kekasih yang tak akan pernah patah hati. Cinta yang paling tinggi, keimanan yang hakiki.


(27 Ramadhan 1429 H, Mengiringi langkah yang tertatih menuju cinta-Mu, Rabbi…)

Tidak ada komentar: